Pensiun dari TKI, Agus Sugiono Sukses Bisnis Jamur Tiram

Jamur tiram semakin populer di masyarakat. Selain untuk sayur, jamur tiram juga banyak diolah untuk makanan ringan seperti keripik jamur.

Meski sudah banyak yang membudidayakannya, kebutuhan jamur tiram tetap tinggi. Karena itu, tetap banyak orang yang bergelut dalam usaha ini.

Seperti yang dilakukan oleh Agus Sugiono (34) warga dusun Jepit, Desa Kaligondo Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur yang sukses membudidayakan jamur tiram.

Berawal dari modal sisa kerjanya selama ia bekerja di luar negeri sebagai TKI, sekarang pria yang sudah hampir 4 tahun bergelut di dunia jamur tiram ini mampu mengantongi omset kotor per bulannya sekitar Rp 50 juta.

“Awalnya sepulang dari luar negeri bingung mau kerja apa, setelah itu saya diberitahu oleh teman agar menekuni bisnis budidaya jamur tiram, dan alahamdulilah, hasilnya lumayan menjajanjikan,” ungkap bapak dua anak ini, Rabu (28/6/2017).

Ia menjelaskan, dia awalnya hanya fokus ke budidaya jamur dengan target konsumen pedagang pasar hingga rumahan.

Baca juga:

Namun semenjak 2 tahun terakhir ini di beralih memproduksi media tanam jamur atau yang biasa di sebut bag log saja.

“Karena teman dan warga sekitar sini sudah banyak yang mencoba budidaya dan belajar ke saya, akhirnya saya putuskan untuk memproduksi bag log saja, toh orang orang itu belinya log ke saya,” ujarnya.

Agus mengatakan, kurang lebih sudah sekitar dua tahunan ia hanya menjual media tanam saja.

“Dan konsumen yang saya layani mulai dari Jawa hingga Bali, rata rata per bulan saya harus bisa memenuhi permintaan konsumen sekitar 20 – 25 ribu bag log, dengan harga jualnya per log Rp 2.200, itu pembeli ambil sendiri ke rumah, kalau diantar, biasanya pembeli saya bebani ongkos kirim Rp 100 ribu per 500 log,” jelasnya.

Dalam usahanya ini Agus di bantu dengan 7 orang karyawan, yang semua rata-rata adalah ibu-ibu rumah tangga. Dan untuk saat ini kendala yang paling berarti hanya masalah bahan baku yaitu serbuk kayu.

“Jika lokal banyuwangi kosong,Jawa saya terpaksa harus mendatangkan serbuk kayu dari Bali,” terangnya. (*)

SUMBER

Tinggalkan Balasan